Rumah yang asing

Ketika pulang ke rumah tidak lagi ditemani rasa nyaman dan senang, apakah rumah masih terbilang rumah? Ketika berjalan di gang menuju rumah berasa asing, bukankah itu artinya kita berada di jalan yang salah?

Apakah sudah selama itu aku meninggalkan rumah, sehingga tidak ada lagi perasaan akrab terhadap daerah sekitar? Bagaimana ceritanya kamar kecil dengan barang apa adanya, yang aku sewa di jalan yang kerap membawaku hilang arah berasa lebih lazim untuk ditiduri?

Perasaan sebagai tamu kerap datang ketika mata baru terbangun dari mimpi dan melihat tembok kamar dengan kejanggalan.

Aku kenal semua orang di rumah dan beberapa tetangga sekitar seperti aku mengenal huruf dan angka yang guruku ajarkan sejak taman kanak-kanak. Aku hafal kendaraan umum apa yang aku harus berhentikan untuk pergi ke daerah puluhan kilometer dari rumah tanpa harus bertanya pada peta atau orang sekitar. Ucapan hallo kerap terucap dan pelukan sering ku umbar ketika berjalan ke tempat perbelanjaan ramai dekat rumah karena kudengar namaku dipanggil oleh beberapa perempuan dan lelaki bermuka ramah yang dulu sering berpapasan saat masih sekolah.

Tidak banyak yang berubah tapi bukankah rasa tak pernah berdusta?

Aku tak pernah berpikir dan ingin untuk bermuara ke tempat asing. Hanya beberapa tahun yang lalu, hidup yang aku tahu adalah hidup yang ada disini. Yang berisi anak tetangga berlari riang dan bebas di depan rumah, ayam berkokok saat fajar tiba, dan kambing mengembing di tanah kosong dekat masjid, dimana ibu kerap membuatku berkunjung untuk belajar perintah tuhan dan mengeja quran.

Semua mimpi dan harapan hidup bernuansa keluarga dan kebersamaan. Atau bertemu pemain sinetron terkenal yang nenekku rajin tonton setiap jam enam sore.

Tidak lagikah aku menginginkan hidup yang aku impikan saat masih dalan seragam putih biruku?

Semudah itukah mimpi beralih arah?

Perasaan merindu terhadap kamar kecil di tanah asing kerap datang. Kamar mungil yang menyaksikan banyak tangisan dan tawa karena hidup sebagai seorang dewasa dan jauh dari orang tua adalah asing. Kamar dimana petualangan hidup yang menantang dan menyenangkan kubuat. Tempat dimana aku melanggar norma hidup yang aku buat sendiri.

Rumah adalah tempat dimana hatimu berada, mereka bilang.

Jadi bolehkah aku pergi mengikuti hati?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s