Teruntuk yang selalu disayang,

Kala malam memberikan tenangnya untuk berpikir dan terlentang, kenangan kerap datang tak diundang, meminta hanya sekejap waktu untuk diingat. Entah itu dari tahun ketika hidup hanya tentang hari-hari yang diisi bersepeda di sekitaran sawah atau waktu di mana membuka mata terasa begitu sulit setelah seorang laki-laki merusak khayalan cinta yang kudapat dari TV.

Malam ini, cahaya malam berhias bulan dan bintang menuntun hatiku meraba memori-memori tua belasan tahun yang lalu saat umurku masih belum mencapai belasan. Waktu di mana ayah yang dulu masih kupanggil bapak berulang tahun dan kuberikan beliau kado kaset miliknya sendiri dan kubungkus dalam kertas kado warna-warni dari warung depan.

Aneh memang. Akupun tak bisa ingat kenapa aku tak membelikan kado yang lain. Tapi toh aku dengan riang memberikannya dan bapak dengan tertawa merobek bungkus kadonya. Tak ada pertanyaan atau kekesalan dan malah pelukan yang ku terima balik.

Akupun ingat ketika aku menangis terisak dan menunduk sepanjang jalan pulang karena hp pertama-ku, yang kudapat dengan merengak sepanjang minggu, diambil entah oleh siapa. Rasanya tak ingin turun melihat ayah yang sudah pulang menunggu di depan pintu. Tapi malah aku dipeluknya dengan senyuman dan ledekan renyahnya yang terlalu khas.

Hari ini adalah hari ulang tahun salah satu dari kedua orang yang begitu tulus mencintaiku. Mungkin itu kenapa kenangan kado dan barang hilang belasan tahun lalu adalah yang ingin hadir ke ingatan.

Ingatan itupun membuat berpikir akan apa yang aku pernah lakukan atau akan aku lakukan sehingga Tuhan menganggapku pantas atas kasih yang tak pernah berhenti setelah beratus-ratus kali membuat dosa dan berulang kali tertidur sebelum menundukkan kepala dalam sajadah yang selalu ditaruh ibuku di kamar untuk berterima kasih. Entah budi pekerti apakah yang telah kubuat hingga aku diberikan keluarga yang selalu siap dengan pelukannya saat aku malah takut setengah mati untuk pulang.

Bagai bulan yang tak pernah lupa menerangi malam, ayah selalu membuat hidup di dunia yang akhir-akhir ini makin berasa kejam dan manusianya hilang akal terasa begitu aman. Karena terang yang aku yakin tak akan pudar, jalan di hidup yang kadang begitu terjalpun tak berasa menakutkan.

Hari ini, dengan langit begitu indah setelah hujan turun seharian, aku malah bingung karena tak tau hadiah layak apa yang bisa kuberi untuk ayah yang merayakan ulang tahunnya.

Apalah kado yang bisa menyaingi cinta yang tak pernah putus dari saat aku menangis keluar dari perut ibu. Kado apa yang bernilai sama seperti cahaya gerhana bulan yang begitu terang hingga ku tak pernah harus meraba-raba dalam kegelapan hidup.

Hingga hari di mana aku bisa menjawab pertanyaanku ini tiba, biarkan rangkaian kataku menjadi kado ulang tahun ayah yang kini dimulai dengan angka 5. Biarkan doa malamku yang mengharapakan kesehatan, kebahagian, kemakmuran dan surga Allah untukmu menjadi kadoku. Biarlah kukirim pelukan penuh sayang untuk dirimu yang masih terhimpit banyak orang dekat kabah untuk kakek yang begitu ayah sayang. Biarkan aku mendoakan diriku sendiri supaya suatu hari bisa memberikan kado berharga lebih dari sepucuk kertas yang kubuat sedikit bernada.

Selamat ulang tahun, Ayah.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s