Tak Sewarna

Cinta baru muncul akan keberagaman yang seakan sengaja ditata berantakan. Kota tak berpola sesuai yang terlihat sama atau bahasa yang serupa. Semua terkumpul menjadi satu, suka atau tidak, seperti di dalam kereta bawah tanah berbau keringat musim panas.

Aku sedang bercerita tentang kota New York.

Kadang duduk atau berdiri kehabisan kursi, aku suka mencuri pandang orang-orang di dalam kereta; kegemaran baru semenjak memulai hidup di kota bising penuh imigran ini.


 

Ada ibu-ibu berkeredung merah marun membawa belanjaan sayur mayur.  Seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun tertidur nyenyak dibahunya. Mereka turun di stasiun Jackson Avenue – tempat  tinggal banyak pendatang baru karena mungkin harga sewa rumah yang cenderung lebih murah dibanding Manhattan atau Brooklyn. Kawasan yang merupakan bagian dari Queens Borough.  Kota berpenduduk paling beragam di seluruh dunia di mana ada 800 bahasa digunakan sehari-harinya.

 


 

Lelaki muda tak berambut dan bermata besar menduduki kursi kosong yang ditinggalkan si ibu. Kuikut mendengarkan senandung lagu yang terdengar seperti bahasa Cina dari erarphone -nya yang berjarak sekitar tiga jengkal dari tempat dudukku.

“Lima stasiun lagi aku turun,” pikirku sambil mata menjelajahi peta di atas kursi.

Bapak tua bertongkat kayu naik. Sedikit berteriak, ia menyampaikan maksudnya kenapa masuk ke kereta. Bukan untuk sampai ke suatu tujuan yang ia sudah lama tidak punya, tapi untuk meminta sedikit sumbangan kasih untuknya yang belum makan dari pagi kemarin. Si bapak bilang ia mantan prajurit perang. Entahlah rasa apa yang harus dirasa – apa kasihan karena ada orang yang rela mati lalu terlantar atau marah pada yang berkuasa hanya berjanji akan peduli.

 


 

Buku karangan penulis favoritku, Adichie, akhirnya selesai kubaca tapi belum juga aku sampai karena gangguan dan perbaikan jalur. Jam tangan menunjuk ke angka sepuluh dan dua belas.

“Matilah, pasti yang lain sudah sampai,” gumamku sambil mengingat hawa panas pagi yang membuatku berlari balik ke kamar untuk ganti baju yang tak berlengan.

 


 

Tak sadar kereta makin dipenuhi orang yang berpegangan tangan ke besi abu-abu; si saksi bisu kerasnya hidup di kota besar; penawar mimpi-mimpi hidup baru yang tak terlalu biru.

Kutawarkan kursi pada ibu berambut merah terang terkepang kecil begitu rapih dan aku berjalan mendekat ke arah pintu bersiap berlari mengejar waktu yang tak pernah mau berdusta.

 


 

Langit begitu menawan pagi ini. Biru dan putih yang begitu terang dari matahari yang panasnya begitu menyengat.

Di sekelilingku ada pohon berdaun hijau dan jingga, juga bunga kuncup dan mekar berwarna putih, pink dan merah.

Tuhan sang pencipta selalu berkarya dengan begitu banyak warna. Mungkin sebagai pertanda jika dunia hanya akan indah bila putih, kuning, coklat, hitam dan lainnya bercampur dengan manis – dan tak dikeruhkan rasa benci pada yang tak sewarna.

 

 

Advertisements